Scabimanyu's Weblog

Selamat Tahun Baru Saka 1937 (Nyepi 2015)

Selamat Tahun Baru Saka 1937,

Semoga Hyang Widhi Wasa

senantiasa melimpahkan wara nugraha-NYA kepada kita semua.

 

Tahun Baru Saka, atau lebih sering dikenal dengan Hari Raya Nyepi adalah saat dimana umat beragama Hindu merayakan dimulainya tahun yang baru. Berbeda dengan cara umum menyambut Tahun Baru yang penuh suka cita, Tahun Baru Saka diwarnai dengan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Sesungguhnya Nyepi sebagai Hari Raya adalah sebuah puncak acara, selengkapnya adalah sebagai berikut:

Pengertian Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hinduberdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Balipengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisansasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi

 

Virus Campak “Jenis Baru” Beredar di Indonesia

1601436virus-campak780x390

Senin, 23 Maret 2015 | 16:10 WIB

KOMPAS.com – Di tengah munculnya banyak virus penyebab penyakit baru semacam SARS dan MERS-Cov, virus penyebab “penyakit lama” masih beredar di Indonesia. Virus campak salah satunya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman dan Rumah Sakit Umum Daerah Ulin di Banjarmasin menemukan genotif virus campak yang sebelumnya tak pernah djumpai di Tanah Air.

Edi Hartoyo, dokter di RSUD Ulin, mengirimkan 16 sampel virus campak yang didapatkan di Banjarmasin ke Lembaga Eijkman. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan, 9 diantara 16 sampel yang didapatkan merupakan genotif D8.

“Itu belum pernah didapatkan di Indonesia sebelumnya,” kata Ageng Wiyatno, peneliti di Lembaga Eijkman, dalam seminar “Dengue and Other Emerging Viruses: Confronting the Threats with New Technologies” di Jakarta, Senin (23/3/2015).

Menanggapi, Subangkit, peneliti campak di Badan Litbang Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa berdasarkan surveillance yang dilakukan lembaganya, persebaran genotif D8 di Indonesia memang tergolong baru.

Subangkit yang bertanggungjawab pada penelitian di wilayah Sumatera dan Kalimantan mengatakan, genotif D8 baru terdeteksi tahun 2014. “Kami temukan di Bandung dan Riau,” katanya.

Secara global, terdapat 24 genotif virus campak. Genotif yang beredar di Indonesia mayoritas genotif G2, G3, dan D9. Genotif D8 sendiri saat ini tersebar di wilayah Asia, Eropa dan Afrika bagian selatan.

Masih Tantangan

Meski merupakan penyakit lama dan program vaksinasinya telah dilakukan lewat imuniasi sejak bayi, campak masih menjadi persoalan bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat.

Tahun 2015, Amerika Serikat mengalami outbreak campak. Campak mulai menjangkiti para pengunjung taman hiburan Disney, sehingga wabah kali ini kerap disebut “Disney Measles”. Diduga, wabah dipicu oleh pengunjung yang tak menjalani vaksinasi campak.

Di Indonesia, campak masih membuat Banjarmasin dinyatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB). Edi mengatakan, sepanjang tahun 2014, masih terdapat 34 kasus, tinggi untuk penyakit campak. Hingga Maret tahun 2015, sudah ada 17 kasus.

Edi mengungkapkan, tingginya kasus campak disebabkan oleh masih adanya penolakan pada vaksinasi. “Ada satu desa yang menolak vaksinasi campak. Kasus campak sebagian besar berasal dari sana. Mereka bilang, vaksinasi malah bikin sakit,” katanya.

Penolakan pada vaksinasi campak mengkhawatirkan. Kasus outrbreak di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penolakan satu kelompok bisa menyebabkan dampak besar dalam satu komunitas.

Campak sendiri bila dibiarkan bisa memicu komplikasi. Pneumonia adalah komplikasi paling umum yang dijumpai di Indonesia. Penderita bisa meninggal, bukan oleh canpak, melainkan karena komplikasi yang diderita.

Sementara dari sisi sosial penolakan vaksinasi menjadi pemicu utama kasus campak, dari sisi biologi pun virus terus berkembang dan efektitifitas vaksinasi menjadi salah satu isu utama.

Dahulu, vaksinasi campak dipandang hanya perlu dilakukan sekali. Saat ini, vaksinasi campak harus berulang. Anak-anak yang divaksin campak masih berpeluang terjangkit pada usia 4 tahun. Pada yang tak menjalani vaksinasi, umur 2 tahun sudah bisa terjangkit.

Tantangan itu menjadikan pemetaan virus penting dilakukan. Pengetahuan tentang genotif virus yang beredar, kata Edi, berguna untuk mengetahui asal-usul virus serta mengetahui efektifitas vaksin. Lembaga Eijkman, RSUD Ulin, dan Universitas Lambung Mangkurat menandatangani MoU untuk kerjasama pemetaan virus.

Valentine’s Day

Dear Readers,

Hari ini, tanggal 14 Februari adalah hari yang dikenal luas sebagai Hari Valentin, atau Valentine’s Day.

Orang bertanya-tanya, apakah itu Valentine’s Day? Apakah seperti Independence Day (Hari Kemerdekaaan) atau Labours Day (Hari Serikat Buruh)?

Valentine’s Day, berkat kekuatan publikasi dunia barat, dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. Mengenai apa sesungguhnya arti dari Valentine’s Day “seakan” tidak lagi memiliki arti selain Hari Kasih Sayang antara pasangan (baik yang sudah menikah atau belum), antara orang tua dan anak, antar saudara sekandung ataupun tidak.

Pada intinya, sebagaimana hari-hari perayaan lain, Valentine’s Day tidak membuat aktivitas saling mengasihi dan menyayangi hanya dilakukan pada hari perayaan tetapi boleh saja dilakukan di hari-hari lain sepanjang tahun. Bagi orang yang memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut, maka hari-hari perayaan bisa jadi gambaran klise, tetapi tidak untuk beberapa orang yang tidak seberuntung itu.

Ketika memaknai hari perayaan kasih sayang ini, setidaknya bagi yang beruntung dapat selalu menyalurkan rasa kasih sayang bagi keluarga atau sesamanya, adalah dengan mensyukuri keberuntungan itu dan mempersembahkan harapan kepada Tuhan bahwa keberuntungan itu bisa terus kita rasakan dan bisa kita bagi-bagikan bagi yang kurang beruntung.

Mendekati akhir Hari Valentine’s Day ini, perkenankan saya mengajak Readers sekalian mempersembahkan yang terbaik bagi sesama kita. Happy Valentine’s Day, semoga kita selalu dikasihi dan disayangi Allah Pencipta Kehidupan Dunia ini …

Selamat Merayakan Hari Raya Natal 2014 dan Tahun Baru 2015

Menjelang akhir tahun 2014 ini, perkenankan kami mendoakan agar rekan-rekan pembaca dan pemerhati dikarunai kesehatan dan kekuatan dari Tuhan dan menyambut datangnya tahun yang baru dengan harapan yang lebih baik dari yang sudah dicapai di tahun 2014.

Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dengan asupan makanan yang sehat dan bernutrisi, menjaga kebersihan lingkungan dan tentu saja berdoa untuk kesehatan kita semua.

Selamat Hari Natal 2012 dan Tahun Baru 2013

Di hari terakhir Tahun 2012 yang kita cintai ini, perkenankan kami mengucapkan Selamat Hari Natal 2012 dan Tahun Baru 2013. Mari kita songsong tahun yang baru dengan semangat yang baru, hidup yang lebih sehat, perbanyak perbuatan yang lebih baik, semoga Tuhan selalui menyertai kita semua.

Pandangan Klinis Psikologi Anak Balita

Dear Readers,

Melanjutkan dari artikel mengenai proses pertumbuhan tingkah laku maupun kecerdasan anak dari sisi awam, maka dalam artikel ini, saya ingin membahas sedikit mengenai pandangan klinisnya. Tentu saja artikel ini bukanlah artikel ilmiah, hanya sekedar sharing pengalaman baik pribadi maupun rekan-rekan yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama.

Seorang anak dalam pertumbuhannya, selalu punya puncak dan lembah, artinya bisa suatu ketika dia sangat aktif tetapi ada kalanya dia betul-betul terkurung dalam dunianya sendiri. Penyebabnya bisa beragam, dalam tahap awal pengenalan lingkungan dia belum mampu memilih sikap apa/rasa apa yang harus ditunjukkan. Contohnya dikala keluarga sedang berkumpul, dia cenderung malu atau pendiam. Demikian juga sebaliknya. Ini adalah proses belajar yang harus dibantu oleh lingkungan dan orang tua agar dapat mengenal berbagai situasi dan cara menanggapinya.

Namun adakalanya semua itu tidaklah sesuai yang umumnya terjadi. Adakalanya sang anak terlalu fokus dengan satu hal sehingga ia tidak bisa diganggu, atau bisa juga sang anak sangat distracted (tidak fokus), sehingga dia terus berganti-ganti baik mainan maupun suasana hati/moodnya.

Untuk anak-anak yang sering terkurung dalam dunianya, kita sering mengenal kata autis, bahkan ini seringkali menjadi ejekan untuk orang dewasa (yang tidak autis) ketika yang bersangkutan terlalu asyik dengan kegiatannya. Autis seakan menjadi judgement atau putusan pengadilan atau cap negatif. Padahal autis bukanlah suatu kondisi akhir melainkan suatu perjalanan ke dalam kondisi yang lebih berat. Sehingga cap autis hendaknya tidak terlalu mudah diberikan pada anak balita, yang kita tahu masih panjang waktunya untuk belajar dan keluar dan terlepas dari kondisi autis.

Nah, dalam artikel ini, saya mengajak new parents untuk lebih mengenal secara awam (bukan terlalu klinis, koq) mengenai ketidakwajaran kondisi tingkah laku anak. Dalam hal ini ada beberapa yang menjadi “rekanan” dari Autis, – yang selanjutnya kita sebut ASD (Autistic Spectrum Disorder), yaitu ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

ASD atau PDD ( Pervasive Developmental Disorders) adalah kumpulan dari 3 syndroms, yaitu:

1. autistic disorder,

2. Asperger syndrome, and

3. Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified.

Secara umum kondisi ini didefinisikan sebagai kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi dengan orang lain. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang rutin dan terukur.

Di sisi yang tidak terlalu jauh, ada yang namanya ADHD, dimana seringkali disebut hyperactive saja.

Untuk bisa bicara mengenai keseluruhan sebab akibat dan hubungan antara semua istilah itu akan cukup panjang tetapi kita mulai saja dengan ciri-ciri awamnya dulu:

Autism Behavioral Checklist

  • Difficulty mixing with other children;
  • No real fear of danger;
  • Tantrums: displays extreme distress for no apparent reason,
  • Inappropriate giggling or laughing,
  • May not want cuddling or act cuddly,
  • Noticeable physical overactivity or extreme underactivity;
  • Little or no eye contact,
  • Works impulsively; often makes careless mistakes: work is sloppy,
  • Uneven gross/fine motor skills

ADHD Behavioral Checklist

  • Cannot talk or play quietly; disrupts others with talk or actions,
  • Difficult awaiting turn in games or activities,
  • Engages in potentially dangerous activities,
  • Plays without normal caution or consideration of consequences,
  • Severe temper tantrums,
  • Interrupts, disrupts, talks and acts inappropriately,
  • When younger, difficulty accepting soothing or holding,
  • Always on the move, overactive, even during sleep,
  • Often does not seem to listen when spoken to directly,
  • Often does not give close attention to details or makes careless mistakes in school work or other activities,
  • Uneven gross/fine motor skills.

 

Dear readers, sementara merenungi point-point di atas, saya pause dulu sampai di sini. Kita akan lanjut di artikel ketiga mengenai psikologi anak balita.

 

Mengenal Psikologis Anak Usia Balita

Dear Readers,

Adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindari bahwa waktu untuk anak semakin sedikit dibanding generasi-generasi sebelum kita, new parents. Semua informasi dan tuntutan lingkungan yang membuat belajar tidak lagi bisa seleluasa dulu.

Demikian juga anak, dalam usia yang sangat muda, gizi makanan yang semakin baik, mampu merangsang kecerdasan dan indranya untuk menangkap semua perubahan lingkungan termasuk proses pengenalan dirinya sendiri.

Semua itu bermuara pada bagaimana sang anak bereaksi atas perubahan lingkungan? Kurangnya sosialisasi, bertambahnya alat permainan individu (juga alat belajar individu) ternyata direspon sang anak yang masih sangat muda dan tidak berpengalaman secara utuh tanpa filter. Akibatnya seringkali anak sulit untuk berkomunikasi. Dia bisa, tetapi tidak punya alasan yang cukup untuk mempresentasikannya, bahkan ketika itu memang diperlukan (contoh pada saat ada teman sebaya/orang yang lebih tua)

Artikel berikutnya adalah mengenai pandangan klinis tentang psikologis anak balita.