Scabimanyu's Weblog

Home » Uncategorized » Pandangan Klinis Psikologi Anak Balita

Pandangan Klinis Psikologi Anak Balita

January 2012
M T W T F S S
« May   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Dear Readers,

Melanjutkan dari artikel mengenai proses pertumbuhan tingkah laku maupun kecerdasan anak dari sisi awam, maka dalam artikel ini, saya ingin membahas sedikit mengenai pandangan klinisnya. Tentu saja artikel ini bukanlah artikel ilmiah, hanya sekedar sharing pengalaman baik pribadi maupun rekan-rekan yang memiliki pengalaman yang kurang lebih sama.

Seorang anak dalam pertumbuhannya, selalu punya puncak dan lembah, artinya bisa suatu ketika dia sangat aktif tetapi ada kalanya dia betul-betul terkurung dalam dunianya sendiri. Penyebabnya bisa beragam, dalam tahap awal pengenalan lingkungan dia belum mampu memilih sikap apa/rasa apa yang harus ditunjukkan. Contohnya dikala keluarga sedang berkumpul, dia cenderung malu atau pendiam. Demikian juga sebaliknya. Ini adalah proses belajar yang harus dibantu oleh lingkungan dan orang tua agar dapat mengenal berbagai situasi dan cara menanggapinya.

Namun adakalanya semua itu tidaklah sesuai yang umumnya terjadi. Adakalanya sang anak terlalu fokus dengan satu hal sehingga ia tidak bisa diganggu, atau bisa juga sang anak sangat distracted (tidak fokus), sehingga dia terus berganti-ganti baik mainan maupun suasana hati/moodnya.

Untuk anak-anak yang sering terkurung dalam dunianya, kita sering mengenal kata autis, bahkan ini seringkali menjadi ejekan untuk orang dewasa (yang tidak autis) ketika yang bersangkutan terlalu asyik dengan kegiatannya. Autis seakan menjadi judgement atau putusan pengadilan atau cap negatif. Padahal autis bukanlah suatu kondisi akhir melainkan suatu perjalanan ke dalam kondisi yang lebih berat. Sehingga cap autis hendaknya tidak terlalu mudah diberikan pada anak balita, yang kita tahu masih panjang waktunya untuk belajar dan keluar dan terlepas dari kondisi autis.

Nah, dalam artikel ini, saya mengajak new parents untuk lebih mengenal secara awam (bukan terlalu klinis, koq) mengenai ketidakwajaran kondisi tingkah laku anak. Dalam hal ini ada beberapa yang menjadi “rekanan” dari Autis, – yang selanjutnya kita sebut ASD (Autistic Spectrum Disorder), yaitu ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

ASD atau PDD ( Pervasive Developmental Disorders) adalah kumpulan dari 3 syndroms, yaitu:

1. autistic disorder,

2. Asperger syndrome, and

3. Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified.

Secara umum kondisi ini didefinisikan sebagai kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi dengan orang lain. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang rutin dan terukur.

Di sisi yang tidak terlalu jauh, ada yang namanya ADHD, dimana seringkali disebut hyperactive saja.

Untuk bisa bicara mengenai keseluruhan sebab akibat dan hubungan antara semua istilah itu akan cukup panjang tetapi kita mulai saja dengan ciri-ciri awamnya dulu:

Autism Behavioral Checklist

  • Difficulty mixing with other children;
  • No real fear of danger;
  • Tantrums: displays extreme distress for no apparent reason,
  • Inappropriate giggling or laughing,
  • May not want cuddling or act cuddly,
  • Noticeable physical overactivity or extreme underactivity;
  • Little or no eye contact,
  • Works impulsively; often makes careless mistakes: work is sloppy,
  • Uneven gross/fine motor skills

ADHD Behavioral Checklist

  • Cannot talk or play quietly; disrupts others with talk or actions,
  • Difficult awaiting turn in games or activities,
  • Engages in potentially dangerous activities,
  • Plays without normal caution or consideration of consequences,
  • Severe temper tantrums,
  • Interrupts, disrupts, talks and acts inappropriately,
  • When younger, difficulty accepting soothing or holding,
  • Always on the move, overactive, even during sleep,
  • Often does not seem to listen when spoken to directly,
  • Often does not give close attention to details or makes careless mistakes in school work or other activities,
  • Uneven gross/fine motor skills.

 

Dear readers, sementara merenungi point-point di atas, saya pause dulu sampai di sini. Kita akan lanjut di artikel ketiga mengenai psikologi anak balita.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: